Home » sosiologi » Ketika Maling Teriak Maling, Apa Yang Terjadi?

Ketika Maling Teriak Maling, Apa Yang Terjadi?

Sungguh aneh bila ini terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Artinya kepercayaan satu sama lain sudah benar benar retak, sehingga yang berbuat benarpun dianggap salah. Sadar atau tidak, ketika kita tidak saling percaya. Maka, persaudaraanpun akan terkoyak.

Sungguh aneh bila ini terjadi dalam kehidupan bermasyarakat Ketika Maling Teriak Maling, Apa Yang Terjadi?

Dalam bermasyarakat sifat iri dengki, tentu menjadi hal biasa. Ini merupakan gaya hidup yang tidak pernah puas dengan apa yang ada. Sakit mata ketika melihat orang lain mapan, bahagia, nyaman juga awal mula dari miliki sifat iri.

Selalu menilai orang lain salah, seakan kita sudah benar dan tak pernah berbuat salah. Hal ini juga diawali dari sifat iri. Ditambah lagi ketidak puasan dengan apa yang dimiliki orang lain, tentu membuat mereka tidak nyaman dan tidak senang.

Kebayang ga sih, apa bila tempat tinggal mu sudah banyak orang orang yang munafik serta iri dengki? Kami rasa kehidupan dalam lingkungan itu tidak akan ada kenyaman apa lagi kebahagiaan.

Maling Teriak Maling

Kedengaran maling teriak maling saja sudah terkesan anehkan? Bagaimana tidak, yang namanya malingkan orang bersalah. Namun, bagaimana kalau orang yang berbuat salah ikut menilai orang lain salah?

Heemm… lalu apa yang terjadi bila orang salah terkesan sholeh? Kami rasa tidak perlu dijawab, karena yang namanya salah itu yaa tetap salah tidak bisa dianggap benar. Maling teriak maling ini kami rasa, sebuah gaya hidup yang bertujuan untuk menutupi keburukan diri sendiri dengan cara banyak menilai orang lain salah dan tak pernah menganggap benar.
Apa sih, arti dalam peribahasa Maling Tetiak Maling? “Seseorang yang melakukan perbuatan jahat yang masih disembu­nyikan dan menuduh orang lain yang melakukan perbuatan tersebut”.
 
Kami rasa, arti dalam peribahasa maling teriak maling tentu semua orang tahu. Namun, bagaimana agar kita bisa jauh dari perbuatan atau sifat buruk tersebut? Ini tentu kembali pada diri sendiri.
Kesimpulan
Sifat ini merupakan perbuatan paling buruk. Jadi, harus bisa mengintrospeksi diri, serta menilai apa saja yang sudah pernah melakukan perbuatan baik serta membuat orang lain ikut senang dengan apa yang kita lakukan.
Dengan demikian, maka tidak perlu mengagungkan apa saja yang sudah kita lakukan. Namun, cukup orang lain saja yang menilai kebaikan serta keburukan sebagai jejak yang kita tinggalkan.

Baca:  Tips Membangun Kepercayaan Dalam Masyarakat Desa

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.