-->
Meidi Y
Meidi Y Blogger pemula yang ingin berbagi pengalaman hidup melalui tulisan dan diharapkan dapat menginspirasi banyak orang.

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Medipedia - Hijrah diartikan sebagai perubahan kearah yang lebih baik dan lebih syariah. Kini, hijrah menjadi suatu budaya yang cukup nge-tren di masyarakat. Banyak orang berbondong-bondong memilih produk yang lebih syariah.  Bahkan, dalam urusan perbankan, sekarang banyak bermunculan bank syariah. 

Di tahun-tahun belakangan ini, sambutan masyarakat akan bank syariah cukup baik, bahkan terus meningkat. Akan tetapi, bank konvensional juga masih tetap bertahan karena penyebaran konternya memang sudah merata bahkan ke desa-desa yang kecil.

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat masih kurang familiar dengan bank syariah karena bank ini terbilang masih baru dan penyebarannya masih di kota-kota besar. Padahal, antara bank syariah dan bank konvensional terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup mendasar yang meliputi:

1. Orientasi yang Dianut

Bank konvensional mengedepankan ‘profit oriented’ yang berarti mengutamakan keuntungan dunia. Sedangkan, bank syariah mengedepankan ‘profit dan falah oriented’ yang berarti mengutamakan keuntungan dunia dan akhirat. 

Oleh karena itu, di bank syariah, jenis usaha yang dilakukan oleh pihak nasabah yang meminjam dana haruslah jelas dan halal sesuai dengan syariat islam. Akan tetapi, di bank konvensional, jenis usaha yang dilakukan oleh nasabah tidak diatur secara mendetail. 

2. Sistem Pengelolaan Dana

Seperti kita tahu, di bank konvensional, dikenal dengan adanya sistem riba, namun di bank syariah, sistem riba diharamkan. Oleh karena itu, untuk mengelola dana, bank syariah menggunakan sistem bagi hasil. 

Sistem bagi hasil ini menjadi hal yang paling mendasar untuk membedakan bank syariah dengan bank konvensional. Dibanding bank konvensional, bank syariah mengutamakan keuntungan baik bagi pihak nasabah ataupun pihak bank. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

a. Aspek Bagi Hasil
Besarnya jumlah bagi hasil di bank syariah berdasarkan pada keuntungan atau pendapatan yang diperoleh dari pihak nasabah. Sementara itu, besar bunga yang ditetapkan di bank konvensional berdasarkan pada jumlah uang (pokok) pinjaman. 

Jadi, di bank konvensional, jumlah bunga tergantung besarnya nominal yang dipinjam oleh pihak nasabah, dan jumlah bunga yang harus dibayarkan sudah di tetapkan di awal saat transaksi pinjaman dilakukan. 

Tetapi di bank syariah, jumlah keuntungan bagi hasil didasarkan pada pendapatan yang didapat oleh pihak nasabah, dan waktu penetapan bagi hasilnya ditetapkan di akhir setelah proyek itu dilaksanakan oleh pihak nasabah. 

b. Aspek Perhitungan Untung Rugi

Dalam menghitung besarnya keuntungan yang dibagikan, jumlah yang ditetapkan di bank syariah selalu berganti mengikuti alur usaha yang dijalankan oleh nasabah. Hal ini didasarkan pada kemungkinan adanya pasang surut dari usaha pemilik nasabah. Sementara itu, di bank konvensional, besar pembayaran bunga akan tetap sama seperti yang telah dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh nasabah untung atau rugi. 

Tentunya, di bank syariah jika proyek yang dijalankan mendapat untung, maka keuntungan itu dibagi atas kesepakatan antara nasabah dan pihak bank. Dan jika usaha itu mendapat kerugian, pihak bank syariah dan nasabah akan menanggungnya bersama-sama. 

c. Aspek Pemberlakuan Suku Bunga

Di bank konvensional, nasabah kredit harus tunduk pada pemberlakuan tingkat suku bunga yang ditetapkan secara sepihak oleh bank. Pembayaran bunga sewaktu-waktu dapat meningkat atau menurun sesuai fluktuasi tingkat suku bunga di pasar uang. 

Sedangkan, di bank syariah, porsi pembagian bagi hasil berdasarkan nisbah yang telah disepakati dan akan berlaku tetap sama sesuai dengan akad hingga berakhirnya masa pembiayaan. 

3. Pola Hubungan di Bank

Di bank konvensional, hubungan bank dengan nasabah hanya dikenal sebatas debitur-kreditur. Akan tetapi, di bank syariah nasabah dianggap sebagai mitra yang tertuang dalam bentuk akad mudharabah dan musyarakah, sehingga ada komitmen yang kuat antara pihak bank dan nasabah. Kemudian, di dalam bank syariah dikenal ada tiga jenis kemitraan, yaitu ada jual-beli, sewa-menyewa, dan pinjam-meminjam.

4. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah

Untuk dapat selalu melakukan transaksi yang sesuai dengan syariat islam, bank syariah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS). Tugas DPS ini adalah untuk mengawasi dan mengingatkan pihak bank agar menjauhi hal-hal yang dilarang oleh ajaran islam. 

Itulah perbedaan mengenai bank syariah dan bank konvensional. Dengan membaca penjelasan diatas, semoga pertanyaan-pertanyaan yang muncul dipikiran anda bias terjawab. Meskipun keduanya memiliki perbedaan, adanya bank syariah dan bank konvensional dapat mendukung dan membantu permasalahan finansial masyarakat. 

Meidi Y
Meidi Y Blogger pemula yang ingin berbagi pengalaman hidup melalui tulisan dan diharapkan dapat menginspirasi banyak orang.
Dapatkan update artikel terbaru dari Medipedia.id lewat email. GRATIS!